Jeritan Lhokseumawe – Nakes Lhokseumawe PHK massal menyuarakan jeritan hati setelah kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. Tenaga kesehatan di Lhokseumawe menyampaikan aspirasi mereka dengan tegas dan jujur. Mereka menegaskan keinginan kuat untuk tetap bekerja dan mengabdi, meskipun harus menerima gaji di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/nakes-9i9.jpg)
Para nakes menjelaskan bahwa profesi tenaga kesehatan bukan sekadar mata pencaharian, tetapi panggilan pengabdian. Nakes Lhokseumawe PHK merasa terpukul karena keputusan pemutusan kerja datang secara mendadak dan berdampak langsung pada kehidupan keluarga. Banyak dari mereka masih memiliki tanggungan dan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap hari.
Baca Juga : Nakes di Lhokseumawe Cuma Digaji Rp 600 Ribu, Pemkot Pastikan Advokasi 185 Pekerja yang Kena PHK
Sejumlah nakes menyampaikan bahwa mereka siap bekerja dengan skema gaji apa pun asalkan tetap dapat menjalankan tugas pelayanan kesehatan. Mereka berharap pemerintah daerah dan pihak terkait membuka ruang dialog untuk mencari solusi yang adil. PHK menilai keberlanjutan layanan kesehatan harus menjadi prioritas bersama.
Para tenaga kesehatan juga mengingatkan bahwa kekurangan tenaga medis dapat memengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Mereka menilai pengalaman dan kompetensi yang telah dimiliki selama bertahun-tahun seharusnya tetap mendapat perhatian. Nakes Lhokseumawe PHK berharap kebijakan kepegawaian dapat mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan keberlangsungan sistem kesehatan daerah.
Pemerhati kesehatan di Lhokseumawe menilai situasi ini perlu penanganan serius. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret agar persoalan PHK massal tidak berlarut-larut. Komunikasi terbuka antara pemerintah, manajemen fasilitas kesehatan, dan para nakes dinilai menjadi kunci penyelesaian masalah.
Melalui suara yang mereka sampaikan. PHK ingin menunjukkan komitmen untuk terus bekerja demi masyarakat. Mereka berharap pemerintah dan pemangku kepentingan dapat memberikan solusi yang memungkinkan mereka kembali bertugas. Dengan kebijakan yang tepat dan berpihak pada kemanusiaan, para nakes optimistis dapat kembali memberikan pelayanan terbaik bagi warga.




